Tampilkan postingan dengan label ringkasan-artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ringkasan-artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

SoalSial: Siapa yang Lebih Negarawan: Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta?

Edy Suhardono menulis tentang kenegarawanan dari pasangan Capres-Cawapres Indonesia. Apakah yang dimaksud kenegarawanan dan bagaimana menakarnya?

Ia berpendapat bahwa sosok negarawan dapat diukur dari sejauh mana seorang pemimpin mampu menghindari dua kesalahan paling umum dalam penyelenggaraan pemerintahan, yakni kesesatan anggapan tentang kelenturan dan mitos tentang solusi.

Edy menjelaskan lebih jauh bahwa ...

“Kesesatan tentang Kelenturan (KK) adalah kecenderungan memaksakan visi atau cita-cita seseorang bagi dunia luar. Dalam psikologi, KK ditunjukkan dengan kecenderungan untuk mempertautkan antara diri sendiri dan dunia luar dengan modus mengasimilasikan daripada mengakomodasikan.”
“Mitos tentang Solusi (MS) adalah keyakinan yang hampir tak pernah dipertanyakan lagi tentang keniscayaan dari bekerja keras sebagai prasyarat agar manusia dapat memecahkan masalah-masalah dunia atau, setidaknya, masalahnya sendiri.”

Bagaimana menurut Anda mengenai tulisan di atas? Adakah faktor-faktor lain yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin memiliki kualitas kenegarawanan?

Baca artikel lengkapnya di SoalSial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.


SoalSial: Jurus Jokowi Menekan Inflasi

Edy Suhardono dalam post di SoalSial kali ini mencermati pernyataan Joko Widodo, yang ketika itu masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, tentang manajemen kontrol sebagai cara mengantisipasi inflasi.

Menurut Edy, gagasan Joko Widodo menekan inflasi tersebut merupakan ...

“...terapan dari Teori Cost Push yang menyatakan bahwa inflasi terjadi ketika biaya produksi naik dan peningkatan tersebut ditanggungkan kepada konsumen.”

Bagaimana menurut Anda? Adakah faktor dan metode lain untuk menanggulangi permasalahan inflasi?

Baca artikel lengkapnya di SoalSial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

Senin, 22 Desember 2014

SoalSial: Meyakini Kebenaran Atau Membenarkan Keyakinan?

Edy Suhardono mencermati adanya kampanye negatif yang kadang agresif pada periode penjajagan Capres-Cawapres pasca-pileg, juga mengapa orang lebih memilih percaya pada hal yang tidak benar atau tidak didukung oleh bukti.

Edy memaparkan beberapa faktor psiko-politik yang berperan sehingga kita memilih untuk percaya meski tanpa landasan kebenaran.

Pertama, kecenderungan mengidentifikasikan diri pada kepentingan sendiri.

Kedua, kecenderungan mengkonstruksikan citra diri.

Ketiga, kecenderungan memfungsikan keyakinan sebagai alat pengikat sosial.

Keempat, kecenderungan melakukan bias koherensi.

Apakah Anda menyadari bahwa Anda bisa saja mengevaluasi bukti yang telah dicampur sedemikian rupa dan Anda gunakan untuk mendukung keyakinan yang sudah Anda peluk? Bagaimana pendapat Anda?

Baca artikel lengkapnya di SoalSial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

SoalSial: Ideologik? No! Survive? Yes!

Edy Suhardono menulis tentang bagaimana mekanisme pertahanan diri mirip dengan refleks, yang dapat menimbulkan seribu pembenaran dan pemaafan diri sebagai cara bertahan hidup menghadapi tekanan psikologik.

Ia menjelaskan:

“Penggunaan dalih fungsi sebagai alasan melindungi diri sendiri jauh lebih kuat daripada kesetiaan ideologik. Tidak ada seorangpun yang menghadapi masalah pahit yang sama kemudian memiliki pendapat obyektif tentang apa yang telah ia lakukan sendiri dalam situasi yang sama.”

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa saat memperoleh ancaman dan tekanan mental yang menghimpit, orang dapat mengalami perubahan respon emosional. Menurut Edy:

“Hanya sedikit orang yang kuat, independen, dan memiliki kepribadian mandiri, yang mampu menaklukkan kebutuhan ketergantungan seperti ini; sehingga tetap dapat berdiri tegak di tengah tekanan dan, jika perlu, berani mati.“

Apakah Anda pernah mengalami depresi, kekesalan, atau kegelisahan yang sebenarnya datang dari mekanisme seperti yang dituturkan di dalam artikel ini?

Baca artikel lengkapnya di SoalSial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

Selasa, 16 September 2014

SoalSial: ‘Jokowi Effect’ dan Logika ‘Tidak Benar (Bahwa)’

Edy Suhardono lewat tulisannya mengajak Anda mengenali kesalahan-kesalahan logika, kesalahan informasi dan rasionalisasi ketika menentukan validitas argumen atau penjelasan tentang adanya sebuah fenomena yaitu Jokowi Effect.

Di paragraf awal artikel Edy mengusulkan ...

“... marilah kita uji pernyataan para pengamat yang mengatakan, “Tidak benar (bahwa) ada ‘Jokowi Effect’”. Pertanyaannya, dengan mereka mengatakan bahwa “adanya ‘Jokowi Effect’ (JE) tidak benar”, apakah penilaian mereka jujur?”

Ungkapan atau pernyataan “tidak benar (bahwa)” dirangkai dengan penalaran tertentu yang biasanya diikuti sejumlah alasan. Penalaran semacam ini tak dirancang untuk mengejar kebenaran, tetapi untuk memenangkan argumen.

Lebih jauh, Edy berpendapat ...

“... penalaran adalah sarana untuk berargumentasi, terutama untuk membantu meyakinkan orang lain dan untuk mengevaluasi argumen yang dibuat orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki bias konfirmasi yang sangat kuat.”

Apakah Anda pernah berdiskusi dengan orang-orang lain dan mereka tak setuju pada gagasan Anda? Apakah perbedaan-perbedaan ide Anda dan ide orang lain dapat saling bertaut, mengimbangi, dan mengisi untuk kemudian menemukan solusi terbaik?

Baca artikel lengkapnya di SoalSial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial  

Kamis, 11 September 2014

SoalSial: Transformasi Pribadi, Perjalanan Bukan Perhentian

Edy Suhardono mengamati bahwa para transformator tulen hampir tak pernah memaknakan tansformasi dalam garis dua kutub: gagal-sukses. Para transformator tulen menyukai proses pertumbuhan dan perkembangan.

Edy juga berpendapat para transformator tulen tak pernah mencari pembenaran dari apa yang disikapkan anak buah. Resistensi menjadi umpan-balik bagi mereka.

Lebih lanjut, Edy memaparkan langkah-langkah yang mungkin ditempuh untuk mencapai transformasi pribadi.

1. Langkah Pertama: Evolusi Kesadaran

2. Langkah Kedua: Bergerak dari Absolut ke Paradoksal

3. Langkah Ketiga: Melihat Hal Yang Tak Terlihat dari Masa Depan

4. Langkah Keempat: Kongkret dan Aksional-Reflektif
  • Berimbang, paradoks dan dilematis.
  • Melakukan perbaikan secara konstan.
  • Periang dan jenaka.
  • Temukan the true self Anda.
  • Tidak secepat membalik telapak tangan.
  • Bertindaklah.
  • Kepemimpinan adalah tindakan, bukan posisi.
  • Perhatian.

Bagaimana menurut Anda?

Apakah transformasi adalah tujuan akhir? Adakah langkah-langkah lain yang dapat memandu Anda mencapai pribadi yang transformatif?

Baca artikel lengkapnya di SoalSial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial 

Jumat, 23 Mei 2014

SoalSial: Dari Model Pendidikan Instruksional Ke Model Konstruksi Anak

Edy Suhardono memulai risalah ini dengan menulis salah satu pernyataan Kenneth Chastain dalam penelitiannya mengenai bagaimana sistem pendidikan sebagai bagian dari budaya lebih memberi penekanan terhadap individualitas daripada konformitas.

Seiring berjalannya waktu, pertanyaan yang muncul berkaitan dengan hasil penelitian dan artikel mengenai penelitian itu tetap sama, yaitu, “Bagaimana kita harus menjawab kebutuhan khas-perorangan dari para pembelajar?”

Menurut Edy, tugas para guru dan orangtua tak lain ialah menyediakan jalur pembelajaran yang dapat menghantar para pembelajar menuju tingkatan proses kognitif lebih tinggi dan pencapaian standar sesuai keberadaan atau konstruksi khas mereka.

Terkait hal tersebut, Edy menyatakan ...

“... meski “instruksi yang khas individu (II, individualized instruction)” sudah dikenali orang selama sejarah kependikan, terma “instruksi sesuai konstruksi anak (DI, differentiated instruction)” baru menapakkan kaki pertama kali tak lebih dari dua dasawarsa terakhir melalui konsep “self-paced learning.””

“DI dimaksudkan guna membantu setiap pembelajar/siswa mencapai aktualisasi potensi seoptimal mungkin yang dapat mereka capai melalui metode atau filosofi pengajaran ...”

Edy melihat bahwa model pendidikan instruksional hampir selalu mengabaikan konstruksi anak. Ia lalu menguji ketahanan dan keluasan cakupan teori Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligences) cetusan Howard Gardner, yang secara khusus bersinggungan dengan gaya belajar individu. Melalui teori Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligences) tersebut, ia berpendapat ...

“..., alih-alih memperdebatkan obyek material tentang kecerdasan –hal yang dimiliki dan disadari semua orang sebagai kualitas yang ada dalam dirinya– melalui segala posisi argumentatif dan disputasi konseptual tentang kecerdasan (obyek formal), adalah jauh lebih baik untuk memperlakukan kecerdasan secara cerdas.”

Bagaimana menurut Anda?

Apakah Anda menemukan teori, metode, pendekatan, atau praktik yang bersifat lebih “berpihak pada hidup” dan menawarkan kebenaran empiris seperti yang Edy Suhardono temukan lewat Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligences)?

Baca risalah lengkapnya di SoalSial: Dari Model Pendidikan Instruksional Ke Model Konstruksi Anak

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

Minggu, 18 Mei 2014

SoalSial: Hukuman Buat Koruptor: Legal atau Moral?

Edy Suhardono menulis tentang “principle of double effect” yang merupakan kriteria etik dimana pelaksanaan hukuman terhadap penjahat korupsi ditargetkan memiliki dua efek sekaligus. Pertama, efek buruk, yaitu merenggut kehidupan manusia; dan, kedua, efek baik, yakni memberlakukan keadilan dan melindungi masyarakat

Ia menjelaskan bahwa dalam PDE, hukuman terhadap para koruptor harus memiliki justifikasi moral, di antaranya adalah:

“... (1) bertujuan baik, yakni melakukan keadilan dan melindungi masyarakat, (2) tujuan baik yang dimaksud (melindungi masyarakat dan menjalankan keadilan) diupayakan agar lebih baik daripada tujuan buruk (membunuh manusia); dan (3) tujuan baik tersebut (melindungi masyarakat dan keadilan) bukan merupakan akibat langsung dari kegagalan melaksanakan tujuan yang buruk, dimana tujuan yang baik tidak dikerjakan melalui tindakan yang pada hakikatnya buruk.”

Bila tujuan hukuman mati adalah melumpuhkan kriminal, sementara negara dimana kasus korupsi terjadi adalah negara miskin, logis bahwa hukuman mati adalah satu-satunya pilihan; sebab dalam keterbatasan semacam ini penahanan seumur hidup bukanlah pilihan lantaran tidak operasional.

Bagaimana pendapat Anda mengenai hukuman yang tepat diterapkan pada koruptor?

Baca artikel aslinya di SoalSial.
 
Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

SoalSial: Penyadapan, Transparansi Dan Korupsi

Edy Suhardono mencermati mengenai para arsitek internet yang terbuka memberikan kepada kita sumber informasi yang hampir tak terbatas. Pihak yang dibuat pusing tujuh keliling adalah para orang tua, politisi, dan perusahaan online. Orang-orang muda yang lahir di era internet ini sangat dimanjakan dengan berbagi informasi pribadi melalui aplikasi media sosial tanpa menyadari ancaman yang mungkin terjadi bersamaan dengan kegiatan ini.

Lebih lanjut, Edy menyatakan bahwa kerahasiaan masih dapat ditolerir jika tahapan masih berada pada pembahasan atau analisis masalah yang belum terselesaikan dan menyangkut keamanan nasional. Dalam alam demokrasi memang tidak semua isu perlu berventilasi.

Bagaimana pendapat Anda berkaitan dengan kerahasiaan informasi? Apa batas-batas informasi yang harus dirahasiakan dan dibuka pada publik?

Baca artikel aslinya di SoalSial.

Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

Selasa, 28 Januari 2014

Demokrasi Dan Hak Privasi

Edy Suhardono di dalam artikel ini berupaya mengamati hubungan antara demokrasi dan hak privasi.

Menurutnya, …

“Ternyata demokrasi tidak menawarkan jaminan bagi privasi. Privasi bisa mendukung tetapi juga merusak demokrasi. Jika semua warga negara sepenuhnya menggunakan hak mereka untuk privasi, masyarakat akan kehilangan data transparan yang tersedia dan dibutuhkan, sehingga warga dapat mengevaluasi masalah membentuk opini, dan memperdebatkan informasi dalam relevansinya dengan suatu kepentingan.”

Sehubungan dengan itu, Edy bertanya lebih lanjut…

“Jadi, bagaimana seharusnya kita hidup bersama? Apa yang harus kita pedulikan dalam kaitannya dengan kepentingan umum? Bagaimana cara menyeimbangkan antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum?...”

Bagaimana menurut Anda?

Baca artikel aslinya di SoalSial


Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

Senin, 27 Januari 2014

SoalSial: Pembenaran Atas “Maju Tak Gentar”

Edy Suhardono menulis tentang benarkah motivasi membela yang benar selalu mendasari tindakan yang berani? Ia mengamati hal itu dimulai dari upaya perombakan makna “menghormati” menjadi “menaati”. Lewat latihan menaati orang tua dan guru sekolah membuat kita terkondisi pada siapa kita menggantangkan harga diri. Penghormatan pun menjadi penaatan.

Di dunia kerja, perintah pengampu otoritas kepada bawahan untuk melakukan sesuatu yang tak etis, sulit dihindari. Bawahan mungkin sadar bahwa perintah yang diterima tak etis, tetapi penilaian dirinya tunduk terhadap dorongan mematuhi.

Edy memberikan beberapa amatan mengenai mengapa dorongan untuk patuh tersebut begitu kuat.

“Sikap ambigu menghadapi tuntutan hidup layak membuat kita rentan melakukan pemelintiran moral/etik. Alih-alih menoleransi ketidakpastian karena harus mempertimbangkan penilaian dari berbagai sudut pandang, lebih baik mengimplementasikan pendapat pertama yang muncul menjadi tindakan sembari menutup pertimbangan yang muncul kemudian.”

Bagaimana menurut Anda? Mengapa ketaatan atau kepatuhan membuat kita dapat melakukan penyangkalan pada diri sendiri?

Baca artikel aslinya di SoalSial


Tentang Penulis: Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Related Sites: Facebook SoalSial, Twitter SoalSial

Kamis, 14 November 2013

Kekuatan Di Balik Kelemahan

Edy Suhardono menulis posting tentang percakapannya dengan Kirana, salah satu klien IISA.

Kirana bercerita bahwa orang di rumahnya dan guru-gurunya sejak di TK mengatakan bahwa ia seorang pemalu dan pencemas berat. Karena ia merasa memang seperti itu, ia lalu kesulitan untuk berkonsultasi dengan pihak lain tentang kelemahannya tersebut, sampai akhirnya ia dapat menceritakannya hal tersebut kepada Edy.

Edy mengapresiasi upaya Kirana untuk bercerita mengenai permasalahan dirinya. Menurut Edy, Kirana telah membuat keputusan untuk menghentikan pertarungan antara kekuatan dalam dirinya melawan apa yang dianggap sebagai “konvensi standar”.

Kirana lalu bertanya bagaimana cara ia dapat mengatasi label pemalu yang terlanjur hidup dalam benaknya dan benak orang-orang di sekitarnya.

Edy menjelaskan…

“Kepemaluan seseorang sebenarnya bukan sebuah paparan sifat yang tunggal, tetapi terdiri dari beberapa fitur. Pertama, si pemalu terlalu gamang, baik dalam berpikir maupun melangkah. Kedua, terlalu lemah-lembut, terutama ketika menunjukkan gerak-gerik tubuh. Ketiga, si pemalu berpembawaan tenang tak bergeming di hampir setiap menghadapi apa pun kejadiannya. Keempat, pemalu terbiasa mengungkapkan diri sedemikian rupa sehingga mudah dikesankah sebagai rentan dan ringkih terhadap serangan pihak lain. Kelima, pemalu bersikap sebagai si penurut, si polos, dan pihak tak tahu apa-apa. Keenam, pemalu mudah dikesankan sebagai si pendiam, tidak mudah membocorkan keterangan, sehingga cenderung dikesankan sebagai pribadi yang dapat menyimpan rahasia. Dan ketujuh, pemalu mudah dikesankan sebagai sosok yang konsisten dalam ketetapannya bahkan ia tidak berubah sejak masa kanak-kanak mereka,” lanjutku.

Apakah Anda pernah mendapatkan cap atau label pemalu seperti yang dialami Kirana? Bagaimana cara atau kiat Anda untuk mengatasinya?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Beristirahatlah, Tapi Jangan Berhenti

Edy Suhardono menulis cerita mengenai percakapan antara Pak Tondo, seorang duda, dengan Heri, anak tunggalnya. Heri mengalami kelelahan menghadapi permasalahan yang sehari-hari ia hadapi di kantor.

Melalui tilpon, Pak Tondo menyemangati Heri dengan berkata…

“…Pertempuran dapat saja menelanmu. Kamu mungkin saja mengalami kemunduran bahkan kekalahan sesaat. Mungkin saja kamu membuat kesalahan, tergoyah, dan jatuh terjerembab. Namun, mungkin juga dengan itu semua, kamu justru menemukan dirimu sebagai sosok yang mampu mengatasi. Kamu tahu, aku mengatasi semua sejak kau masih usia dini, dan dengan kesaksianmu atas yang kulakukan kamu terpanggil untuk mengatasi semua sebagaimana aku memperlihatkan kepadamu. Kamu tidak sendirian dalam perang ini. Pada saat-saat pahit, di saat-saat ketika kamu paling membutuhkan, seluruh daya semesta menopangmu dan menghantarkan cintaku ke dalam hati dan jiwamu,”… 

Pak Tondo menyampaikan bahwa hanya dengan mengahadapi semua permasalahan tersebut, Heri dapat menemukan dirinya sebagai sosok yang mampu mengatasi.

Apakah Anda pernah mengalami permasalah yang sama seperti Heri dan apa tindakan yang Anda lakukan untuk mengatasinya? Bagaimana orang-orang dekat Anda membantu Anda melewati persoalan yang Anda alami?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Rabu, 23 Oktober 2013

Memediasi Atau Memajang Citra

Edy Suhardono mendiskusikan mengenai pidato resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang perseteruan KPK-Polri di Istana Negara Jakarta pada 8 Oktober 2012 siang, pukul 20.05 WIB. Presiden berpidato sekitar satu jam di depan sejumlah menteri KIB II. Beberapa kali di dalam pidatonya, SBY menyebut bahwa ia telah memediasi Ketua KPK dan Kapolri.

Edy melihat ada beberapa hal yang perlu Presiden SBY penuhi agar ia dapat disebut sebagai mediator:
  1. Tidak memihak atau setidaknya mampu menerapkan prinsip ketakberpihakan (principle of impartiality). Selain ia tak pernah bertemu dengan salah satu dari pihak yang dimediasi, ia juga tidak berkepentingan dengan keputusan yang terjadi.
  2. Menerapkan prinsip kesetaraan di antara pihak-pihak yang bersengketa (principle of disputant equality). Ia memberikan kesempatan yang sama dan penuh kepada pihak-pihak yang berselisih untuk saling berbagi perspektif dengan mempersyaratkan bahwa ketika yang satu berbicara, yang lain mendengarkan.
  3. Menerapkan prinsip mendengarkan suara yang positif (principle of hearing on positive voices) dan bukan pihak yang berbicara.
Menurut Anda, apakah langkah sebagai mediator sudah tepat dilakukan oleh SBY? Apakah ia telah menempatkan prinsip imparsialitas, prinsip kesejajaran antara pihak yang berselisih, maupun prinsip pemilihan suara yang positif?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Jumat, 11 Oktober 2013

Bahagia Melihat Anda Berbahagia

Edy Suhardono mencermati salah satu pola umum yang terjadi di kalangan orangtua. Mereka memiliki radar yang tajam dan awas untuk mengetahui perbuatan keliru atau jahat dari anak-anak mereka. Banyak dari mereka pun mengakui kalau mereka tak lagi tahu kapan anak-anak berperilaku baik, sementara mereka mengharuskan agar anak-anak selalu berperilaku baik.

Orangtua bisa jadi tak memahami bahwa kritik dan pujian dapat memiliki efek ganda pada anak-anak. Kritik dan pujian berbentuk kata-kata yang sering terdengar dipakai oleh orangtua, misalnya “nakal” atau “anak baik”. Jika dipakai dengan benar dapat memperbaiki perilaku anak-anak. Sebaliknya, jika salah menggunakan bisa membahayakan perkembangan mereka.

Edy Suhardono menjelaskan...
“Baik “nakal” maupun menjadi “anak baik” sebenarnya bukan perilaku. Atribut semacam ini tidak menjamin kebenaran evaluatif atas apa yang anak lakukan sehingga ibunya menjadi jengkel, atau apa yang anak lakukan sehingga ayahnya menganggap dia sebagai anak baik. Artinya, pujian maupun kritik harus berbasis pada perilaku yang menarik perhatian bagi anak. Bahwa anak-anak ingin menyenangkan orang tua mereka itu hal normal. Justru karena mereka masih kanak-kanak, mereka sangat peduli pada bagaimana orangtua menilai dan merasakan apa yang mereka kerjakan. Mereka membutuhkan umpan balik terkait perbedaan antar-perilaku yang mempengaruhi perasaan mereka."
Apakah Anda pernah merasa pernah melakukan hal semacam itu terhadap anak Anda? Apakah Anda telah cermat atau meleset mengenai perilaku anak?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Jumat, 04 Oktober 2013

Bidang Studi Tak Punya Jenis Kelamin

Edy Suhardono memposting cerita tentang keraguan orangtua terhadap saran pilihan bidang studi putrinya.

Pak Ramsos dan Bu Irawati, salah satu klien IISA, serta putrinya Ilda, telah memperoleh laporan pemetaan kecerdasan Ilda. Rekomendasi pertama bidang studi yang tepat untuk ditempuh oleh Ilda dalam laporan adalah Teknik Geodesi. Ilda sepakat dengan rekomendasi itu, namun ayah ibunya ragu.

Sejak awal Pak Ramsos dan Bu Irawati sudah berbeda pendapat mengenai jurusan apa yang sebaiknya ditempuh Ilda. Mereka ingin putrinya menempuh studi Sastra Jepang.

Ketika Edy Suhardono menanyakan apa pertimbangan-pertimbangan yang selama ini dipikirkan Pak Ramsos dan Bu Ira mengenai pilihan bidang studi putrinya, berikut petikan jawaban mereka.
“Ya, kedatangan kami ini untuk meminta pertimbangan Pak Edy. Sebab, kami, saya sendiri dan isteri saya, sudah berbeda pendapat soal jurusan apa yang sebaiknya ditempuh Ilda; sementara kami berdua pun sama sekali berbeda dengan keinginan Ilda, yang kayaknya justru dikuatkan dengan laporan hasil pemetaan kecerdasannya. Keberatan kami, ya tadi, Teknik Geodesi ‘khan bidang studi yang “cowok banget”. Takutnya Ilda jadi ‘tomboy’,” jelas Pak Ramsos.
Edy Suhardono menjelaskan bahwa rekomendasi bidang studi Ilda, yaitu pertama Teknik Geodesi, kedua Fisika Sonar, dan ketiga Musiklogi (Drum, Perkusi) benar-benar didasarkan pada profil peta kecedasan Ilda.

Apakah Anda memiliki cerita yang sama seperti di atas? Apakah Anda pernah mendengar teman atau keluarga Anda mengalami permasalahan serupa?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Rabu, 02 Oktober 2013

Perlukah Menuduhnya Berselingkuh?

Edy Suhardono menulis artikel tentang salah satu kasus konsultasi pernikahan yang ia tangani.

Seorang istri geram dengan perilaku suaminya. Menurut si istri, ketika ia bertanya apakah si suami tergoda oleh seorang perempuan, si suami tak pernah menatap matanya saat menjawab. Tanda-tanda lain yang mencurigakan juga adalah si suami sering tak menjawab ketika ditelepon dan lebih sering terlambat pulang kerja.

Sebagai respon awal, Edy Suhardono bertanya kepada si istri untuk menelisik lebih jauh...
“Apakah… menginginkan sekadar penjelasan untuk menentukan siapa pihak yang lebih bersalah atas yang sedang terjadi di antara kalian sebagai pasangan? Ibu barusan membaca terlalu banyak tanda-tanda untuk menjelaskan apa yang terjadi, bukan? Padahal, tanda-tanda itu telah Ibu tentukan justru untuk membenarkan keyakinan Ibu,”…
Edy Suhardono berupaya  menjajaki seberapa kuat kapasitas si istri melakukan refleksi diri. Ini diperlukan agar dapat menentukan pintu masuk yang tepat untuk menawar sejauh mana si istri memiliki daya toleransi terhadap kekecewaan.

Ingin tahu bagaimana akhir percakapan di atas?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Kamis, 19 September 2013

Atasi Gila Game Dengan Main Game Bersama

Edy Suhardono berbagi cerita tentang kebingungan orangtua yang menghubunginya karena anak mereka mengancam ingin bunuh diri. Ancaman si anak sebenarnya berawal dari tindakan Ibunya yang marah karena anak terus-terusan bermain game, lalu si Ibu lalu mematikan colokan listrik yang berhubungan dengan komputer yang sedang dipakai main game oleh anak.

Setelah mereka berhasil mengatasi permasalahan, pasangan orangtua ini melanjutkan dengan berkonsultasi pada Edy Suhardono untuk mengetahui langkah-langkah mengatasi bila masalah tersebut kembali muncul.

Berikut penggalan penjelasan Edy Suhardono kepada orangtua:
“… ia [anak]cenderung menyerap informasi lewat cara-cara strategik, gamik, dan serba well-accomplished,” aku berhenti sesaat, "maka, wajar kalau ia menolak diultimatum, diintimidasi, ditakut-takuti, dipaksa melakukan, apalagi diintervensi. Baginya tidaklah masuk akal bahwa orang-orang lain, termasuk orang-orang dekatnya, melarang, mengarahkan, dan membuatkan keputusan, sementara mereka tidak memahami dan menyelami apa yang sedang ia lakukan ....”
Bagaimana pendapat Anda? Anda pernah mengalami peristiwa yang sama?

Baca artikel aslinya di Soalsial.com

Pembenaran Atas "Maju Tak Gentar"

Edy Suhardono mengawali tulisannya dengan bertanya apakah tindakan maju tak gentar selalu dimotivasi oleh dorongan membela yang benar. Ia lalu menjelaskan bahwa hal tersebut dimulai dari:
“…upaya perombakan makna “menghormati” menjadi “menaati”. Sejak dini kita telah dilatih menaati orang tua dan guru sekolah yang pada faktanya menjadi pihak dengan siapa kita menggantangkan harga diri. Keterkondisian ini tak pelak membuat kita mengonversikan penghormatan menjadi penaatan. Di kemudian hari, terhadap apapun perintah atasan atau pemimpin, kita cenderung melakukan ketaatan tanpa berpikir panjang.”
Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda setuju atau memiliki sudut pandang yang berbeda?

Baca artikel aslinya di Soalsial.com