Rabu, 23 Oktober 2013

Memediasi Atau Memajang Citra

Edy Suhardono mendiskusikan mengenai pidato resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang perseteruan KPK-Polri di Istana Negara Jakarta pada 8 Oktober 2012 siang, pukul 20.05 WIB. Presiden berpidato sekitar satu jam di depan sejumlah menteri KIB II. Beberapa kali di dalam pidatonya, SBY menyebut bahwa ia telah memediasi Ketua KPK dan Kapolri.

Edy melihat ada beberapa hal yang perlu Presiden SBY penuhi agar ia dapat disebut sebagai mediator:
  1. Tidak memihak atau setidaknya mampu menerapkan prinsip ketakberpihakan (principle of impartiality). Selain ia tak pernah bertemu dengan salah satu dari pihak yang dimediasi, ia juga tidak berkepentingan dengan keputusan yang terjadi.
  2. Menerapkan prinsip kesetaraan di antara pihak-pihak yang bersengketa (principle of disputant equality). Ia memberikan kesempatan yang sama dan penuh kepada pihak-pihak yang berselisih untuk saling berbagi perspektif dengan mempersyaratkan bahwa ketika yang satu berbicara, yang lain mendengarkan.
  3. Menerapkan prinsip mendengarkan suara yang positif (principle of hearing on positive voices) dan bukan pihak yang berbicara.
Menurut Anda, apakah langkah sebagai mediator sudah tepat dilakukan oleh SBY? Apakah ia telah menempatkan prinsip imparsialitas, prinsip kesejajaran antara pihak yang berselisih, maupun prinsip pemilihan suara yang positif?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Jumat, 11 Oktober 2013

Bahagia Melihat Anda Berbahagia

Edy Suhardono mencermati salah satu pola umum yang terjadi di kalangan orangtua. Mereka memiliki radar yang tajam dan awas untuk mengetahui perbuatan keliru atau jahat dari anak-anak mereka. Banyak dari mereka pun mengakui kalau mereka tak lagi tahu kapan anak-anak berperilaku baik, sementara mereka mengharuskan agar anak-anak selalu berperilaku baik.

Orangtua bisa jadi tak memahami bahwa kritik dan pujian dapat memiliki efek ganda pada anak-anak. Kritik dan pujian berbentuk kata-kata yang sering terdengar dipakai oleh orangtua, misalnya “nakal” atau “anak baik”. Jika dipakai dengan benar dapat memperbaiki perilaku anak-anak. Sebaliknya, jika salah menggunakan bisa membahayakan perkembangan mereka.

Edy Suhardono menjelaskan...
Baik “nakal” maupun menjadi “anak baik” sebenarnya bukan perilaku. Atribut semacam ini tidak menjamin kebenaran evaluatif atas apa yang anak lakukan sehingga ibunya menjadi jengkel, atau apa yang anak lakukan sehingga ayahnya menganggap dia sebagai anak baik. Artinya, pujian maupun kritik harus berbasis pada perilaku yang menarik perhatian bagi anak. Bahwa anak-anak ingin menyenangkan orang tua mereka itu hal normal. Justru karena mereka masih kanak-kanak, mereka sangat peduli pada bagaimana orangtua menilai dan merasakan apa yang mereka kerjakan. Mereka membutuhkan umpan balik terkait perbedaan antar-perilaku yang mempengaruhi perasaan mereka."
Apakah Anda pernah merasa pernah melakukan hal semacam itu terhadap anak Anda? Apakah Anda telah cermat atau meleset mengenai perilaku anak?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Jumat, 04 Oktober 2013

Bidang Studi Tak Punya Jenis Kelamin

Edy Suhardono memposting cerita tentang keraguan orangtua terhadap saran pilihan bidang studi putrinya.

Pak Ramsos dan Bu Irawati, salah satu klien IISA, serta putrinya Ilda, telah memperoleh laporan pemetaan kecerdasan Ilda. Rekomendasi pertama bidang studi yang tepat untuk ditempuh oleh Ilda dalam laporan adalah Teknik Geodesi. Ilda sepakat dengan rekomendasi itu, namun ayah ibunya ragu.

Sejak awal Pak Ramsos dan Bu Irawati sudah berbeda pendapat mengenai jurusan apa yang sebaiknya ditempuh Ilda. Mereka ingin putrinya menempuh studi Sastra Jepang.

Ketika Edy Suhardono menanyakan apa pertimbangan-pertimbangan yang selama ini dipikirkan Pak Ramsos dan Bu Ira mengenai pilihan bidang studi putrinya, berikut petikan jawaban mereka.
“Ya, kedatangan kami ini untuk meminta pertimbangan Pak Edy. Sebab, kami, saya sendiri dan isteri saya, sudah berbeda pendapat soal jurusan apa yang sebaiknya ditempuh Ilda; sementara kami berdua pun sama sekali berbeda dengan keinginan Ilda, yang kayaknya justru dikuatkan dengan laporan hasil pemetaan kecerdasannya. Keberatan kami, ya tadi, Teknik Geodesi ‘khan bidang studi yang “cowok banget”. Takutnya Ilda jadi ‘tomboy’,” jelas Pak Ramsos.
Edy Suhardono menjelaskan bahwa rekomendasi bidang studi Ilda, yaitu pertama Teknik Geodesi, kedua Fisika Sonar, dan ketiga Musiklogi (Drum, Perkusi) benar-benar didasarkan pada profil peta kecedasan Ilda.

Apakah Anda memiliki cerita yang sama seperti di atas? Apakah Anda pernah mendengar teman atau keluarga Anda mengalami permasalahan serupa?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Rabu, 02 Oktober 2013

Perlukah Menuduhnya Berselingkuh?

Edy Suhardono menulis artikel tentang salah satu kasus konsultasi pernikahan yang ia tangani.

Seorang istri geram dengan perilaku suaminya. Menurut si istri, ketika ia bertanya apakah si suami tergoda oleh seorang perempuan, si suami tak pernah menatap matanya saat menjawab. Tanda-tanda lain yang mencurigakan juga adalah si suami sering tak menjawab ketika ditelepon dan lebih sering terlambat pulang kerja.

Sebagai respon awal, Edy Suhardono bertanya kepada si istri untuk menelisik lebih jauh...
Apakahmenginginkan sekadar penjelasan untuk menentukan siapa pihak yang lebih bersalah atas yang sedang terjadi di antara kalian sebagai pasangan? Ibu barusan membaca terlalu banyak tanda-tanda untuk menjelaskan apa yang terjadi, bukan? Padahal, tanda-tanda itu telah Ibu tentukan justru untuk membenarkan keyakinan Ibu,”
Edy Suhardono berupaya  menjajaki seberapa kuat kapasitas si istri melakukan refleksi diri. Ini diperlukan agar dapat menentukan pintu masuk yang tepat untuk menawar sejauh mana si istri memiliki daya toleransi terhadap kekecewaan.

Ingin tahu bagaimana akhir percakapan di atas?

Baca artikel aslinya di Maya Aksara

Kamis, 19 September 2013

Atasi Gila Game Dengan Main Game Bersama

Edy Suhardono berbagi cerita tentang kebingungan orangtua yang menghubunginya karena anak mereka mengancam ingin bunuh diri. Ancaman si anak sebenarnya berawal dari tindakan Ibunya yang marah karena anak terus-terusan bermain game, lalu si Ibu lalu mematikan colokan listrik yang berhubungan dengan komputer yang sedang dipakai main game oleh anak.

Setelah mereka berhasil mengatasi permasalahan, pasangan orangtua ini melanjutkan dengan berkonsultasi pada Edy Suhardono untuk mengetahui langkah-langkah mengatasi bila masalah tersebut kembali muncul.

Berikut penggalan penjelasan Edy Suhardono kepada orangtua:
“… ia [anak]cenderung menyerap informasi lewat cara-cara strategik, gamik, dan serba well-accomplished,” aku berhenti sesaat, "maka, wajar kalau ia menolak diultimatum, diintimidasi, ditakut-takuti, dipaksa melakukan, apalagi diintervensi. Baginya tidaklah masuk akal bahwa orang-orang lain, termasuk orang-orang dekatnya, melarang, mengarahkan, dan membuatkan keputusan, sementara mereka tidak memahami dan menyelami apa yang sedang ia lakukan ....”
Bagaimana pendapat Anda? Anda pernah mengalami peristiwa yang sama?

Baca artikel aslinya di Soalsial.com

Pembenaran Atas "Maju Tak Gentar"

Edy Suhardono mengawali tulisannya dengan bertanya apakah tindakan maju tak gentar selalu dimotivasi oleh dorongan membela yang benar. Ia lalu menjelaskan bahwa hal tersebut dimulai dari:
…upaya perombakan makna “menghormati” menjadi “menaati”. Sejak dini kita telah dilatih menaati orang tua dan guru sekolah yang pada faktanya menjadi pihak dengan siapa kita menggantangkan harga diri. Keterkondisian ini tak pelak membuat kita mengonversikan penghormatan menjadi penaatan. Di kemudian hari, terhadap apapun perintah atasan atau pemimpin, kita cenderung melakukan ketaatan tanpa berpikir panjang.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda setuju atau memiliki sudut pandang yang berbeda?

Baca artikel aslinya di Soalsial.com

Rabu, 28 Oktober 2009

Sulit Belajar Matematika ?

Mayoritas orangtua hampir selalu memprotes, mengapa tangkapan tentang tingkatan Logika Matematika mereka kontras dengan profil hasil pengukuran putra-putri mereka. Terdapat pola pemahaman bahwa profil hasil asesmen IISA Assessment, Consultancy & Research Centre tentang Logika Matematika anak persis identik dengan nilai rapor pelajaran Matematika. Padahal Logika Matematika dan nilai Matematika di kelas lebih sering berhubungan secara linear negatif.

Pada nilai di kelas Matematika, seorang siswa baru berhasil mengerjakan soal dan menghasilkan tingkat skor tinggi, terutama apabila siswa menguasai rumus atau formula Matematika; sebaliknya pada Logika Matematika seseorang yang memiliki tingkatan tinggi pada Logika Matematika adalah yang mampu menemukan rumusan atau formula berdasarkan masalah yang berhasil dipecahkannya. Simpulan singkatnya, keberhasilan mengerjakan soal Matematika di kelas lebih ditopang oleh pendekatan deduktif, yakni dari rumusan ke terapan; sedang tingkatan tinggi dalam Logika Matematika mempersyaratkan ketajaman daya penemuan formula yang mempersyaratkan pendekatan induktif.

Database IISA Assessment, Consultancy & Research Centre menunjukkan pola menarik. Dari sekitar enam belas anak dengan kualifikasi yang berada pada peringkat sepuluh besar Olimpiade Matematika, baik yang regional maupun nasional, memiliki tingkatan Logika Matematika di atas 80 (dari skala 1 hingga 100). Yang remeh namun menarik, mereka adalah anak-anak yang dalam keseharian mereka terlibat dalam aktivitas kerumahtanggaan (house-holding activities), mulai dari menyapu, mengepel lantai, memasak, mencuci piring/pakaian, dsb.

Telusur punya telusur, aktivitas kerumahtanggan ini berkorelasi positif dengan kecerdasan Logika Matematika yang memungkinkan anak menemukan pola kausalitas (hubungan sebab-akibat) dari suatu kejadian.

Senin, 29 Juni 2009

IISA VISIWASKITA: "Pilihan Studi dan Kerja"

Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, apakah pilihan studi selama ini sesuai dengan harapan

Seseorang yang mempunyai Kecerdasan Matematik dalam skala sedang, menempuh kuliah di Erdenburg, Scotland. Kira-kira usai 7 tahun menyelesaikan studi, ia menjadi penyemai bonsai yang terkenal dan sukses di daerah Bandung. Aneh, bukan?

Ternyata, Kecerdasan Naturalistiknya menunjukkan dominasi yang tak dapat dipandang sebelah mata. Panggilan hidup untuk aktif belajar dan bekerja dengan tetumbuhan, telah mengalahkan Kecerdasan Matematiknya.

Serupa dengan pembelajaran hidup ini, seorang mahasiswa yang belajar Teknik Mesin dan Teknik Industri, mengalami drop out berkali-kali tiap 2 tahun. Semua enerji kecerdasannya berada dalam skala memadai.

Namun, telisik lebih dalam telah menunjukkan: Kecerdasan Spasial-nya lebih dominan. Ia menekuni disain Website, dan hasilnya sukses. Tak terbayangkan sebelumnya, bila mahasiswa ini mampu menjadi Net-Preneur yang relatif baru dan mulai menjamur di Indonesia.

IISA Visi Waskita berulangkali menemukan keunikan atas sahabat, klien maupun teman serupa. Tak semua apa yang dipelajari itu sia-sia belaka, tapi telisik lebih dalam atas kecerdasan masing-masing akan lebih menunjang pilihan hidup dan pemanfaatan jejak-jejak studi di masa lalu.

Yakinkah Anda, pilihan studi (kuliah dan sekolah) selama ini bermakna bagi hidup Anda?

Bagi Anda yang ingin menuliskan pengalaman menarik atas Kecerdasan Jamak dalam IISA Visi Waskita, silahkan bergabung dengan Facebook IISA Visi Waskita.

Selasa, 09 Juni 2009

IISA: "Musisi Klasik Pindah Ke Jazz"

Seorang klien yang lama belajar musik klasik, merasa lelah menapak jalur kemajuan. Data Kecerdasan Logos-Linguistik dan Kecerdasan Matematikanya, memadai. Kecerdasan Naturalistik amat kuat dan cenderung dominan.

Pendiskusian terhadap peta ordinal Kecerdasan Jamak menghasilkan suatu rekomendasi: manfaatkan Kecerdasan Matematik untuk menggali secara kreatif progresi akord dan penemuan akord dengan cepat. Kecerdasan Matematik ini mengalami resonansi dengan dominasi Kecerdasan Naturalistik. 

Kecerdasan Naturalistik yang dominan, cenderung menguatkan cara berpikir taksonomi dan kebebasan untuk bermain musik. Kebebasan ini terwujud dalam permainan musik jazz, guna mengurangi rasa keterbatasan dalam bermain musik berdasarkan partitur.

Tiap orang mempunyai keunikan dalam mempelajari musik. Partitur dapat pula menguatkan ketrampilan dalam memberikan suara yang estetis dan musisi yang kreatif. 

Kecerdasan apa yang menguatkan sisi pembelajaran musik melalui partitur?

Dialog-konsultatif bersama IISA mungkin dapat meyakinkan pilihan studi musik yang Anda harapkan.